PARENTING SDTQ : Peranan Bahasa Arab Dalam Menghafal Al – Qur’an

PERANAN BAHASA ARAB DALAM MENGHAFAL AL-QURAN

Simbiosis Mutualis antara Bahasa Arab dan Tahfidz Al-Quran

Oleh Ahmad Syakirin Asmui

Allah SWT menurunkan firmanNYa kepada Nabi terakhir Muhammad SAW dengan memilih Bahasa Arab sebagai Bahasa pengantar firmannya.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴾ [يوسف: 2].

“Sesungguhnya kami turunkan dia (al-Quran) dalam Bahasa arab agar kalian berpikir”.

Tentu ini bukan sebuah kebetulan, namun sebuah kehendak ilahi yang denganNya membuat Bahasa Arab menjadi Bahasa paling mulia di antara Bahasa Bahasa yang ada di dunia.

Karena itu Bahasa Arab dan Al Quran adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Ketika Allah berfirman hendak menjaga al-Quran inklud di dalamnya penjagaan terhadap Bahasa Arab. Dengan demikian, satu satunya bahsa di dunia yang dijamin akan dijaga Allah keberadaanya adalah Bahasa Arab. Hari ini Bahasa Inggris lebih Berjaya daripada Bahasa manapun, namun tidak ada jaminan seratus tahun ke depan akan tetap demikian adanya. Berbeda dengan Bahasa Arab selamanya akan eksis di muka bumi ini.

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz dzikr (al-Quran) dan Kami pulalah yang menjaganya”.

Karenanya dalam tradisi ulama Islam, semua muslim adalah Arab. Karena mereka berbahasa Arab dalam shalatnya, doa dan dzikirnya, bahkan dalam karya tulis, maupun percakapannya, walau mereka berasal dari suku bangsa apapun. Ingatlah, siapa Imam Sibawaih ? buku karya beliau yaitu Kitab Sibawaih dalam ilmu nahwu dijuluki sebagai Qurannya Nahwu. Padahal beliau bukanlah dari suku bangsa Arab, namun ia seorang Persia. Ingat juga Imam Al-Ghozali, Imam Bukhari, Imam Muslim dan lain lain semua mereka ini bukanlah dari suku bangsa Arab namun karya-karya mereka ditulis dalam bahasa Arab. Dan kita juga ingat, putra Indonesia semisal Syaikh Umar Nawawi Al Bantani juga mempunyai banyak karya dalam bahasa Arab. Juga Syaikh Mahfduz Termas, Syaikh Yasin Padang dan lain lain.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda »

أيها الناس ، إن الربّ واحد والأب أبّ واحد، وليست العربية بأحدكم من أب ولا أم وإنما هي اللسان ، فمن تكلم العربية فهو عربي 

“Wahai manusia, sesungguhnya Rabb adalah Esa, dan Bapak (manusia) adalah satu, bukanlah orang Arab di antara kalian dari seorang ayah atau ibu, melainkan dengan lisan. Barangsiapa yang berbicara Bahasa Arab makai a adalah orang Arab”.

 

Peranan Bahasa Arab dalam Menghafal Al-Quran

Yang dimaksud dari judul di atas adalah peranan penguasaan Bahasa Arab bagi seseorang yang dalam waktu yang sama sedang menghafal Al-Quran.

Dalam penelitian Syarif Hadiansyah dari IAIN Salatiga (2018) dari data lapangan yang dia kumpulkan disimpulkan bahwa ada hubungan antara kemampuan Bahasa Arab seseorang dengan kemampuan menghafal Al-Quran.

Tulisan berikut, adalah bentuk konfirmasi dari hasil penelitian diatas. Penjelasannya bisa kami sampaikan sebagai berikut :

Setiap bahasa pun juga bahasa Arab memiliki beberapa anasir, mulai dari  ashwath/fonetik, mufrodat/vocabulary, dan tarakib/grammatikal yaitu nahwu dan shorof.

ASWATH

Tatkala seseorang belajar Bahasa Arab, biasanya terlebih dahulu ia belajar unsur ashwat ini, yang paling mendasar adalah belajar makhorijul huruf, lalu sifat sifatnya. Ilmu ashwat ini berkaitan erat dengan ilmu tajwid sebagai hal yang wajib bagi seorang yang akan menghafal Al-Quran.

Sebagaimana kita tahu, bahwa langkah langkah dalam menghafal Al-Quran dimulai terlebih dahulu dengan tahsin bacaan yang tiada lain adalah memperbagusi unsur pertama bahasa Arab yaitu ashwat.

Seseorang yang sudah bagus makhorij dan pengucapan sifat hurufnya akan dengan lancar membaca al-Quran. Karena berarti dia sudah lanyah dalam membaca. Kelanyahan membaca inilah kunci pertama untuk menuju tangga berikutnya yaitu kemudahan menghafal.

 

MUFRODAT

Ketika seseorang sudah banyak menguasai mufrodat al-Quran maka ketika ia membaca Al Quran atau menghafalkannya mulailah terbayang isi kandungan al-Quran. Makna mufrodat Al-Quran akan mestimulus dan membantu otak dalam mengingat ayat ayat yang dibaca.

Maka dalam konteks mufrodat, pembelajaran  Bahasa Arab haruslah difokuskan pada mufrodat al-Quran. Di sini metode pembelajaran special purpose language learning perlu diterapkan. Tidak semua mufrodat dipelajari, akan tetapi mufordat yang terkait langsung dengan al-Quran.

Anak anak harus dibiasakan dengan an-nuthq as-shohih setiap huruf dan mufrodat. Di sinilah perlunya ada seorang native speaker agar anak pebelajar bisa menirunya.

 

TAROKIB

Pun juga dengan pembelajaran tarokib, harus dipilih sesuai kebutuhan untuk memahami al-Quran. Tarokib yang banyak dipakai Al-Quran harus benar benar terlebih dahulu dikuasai. Pemilihan tentu harus sesuai dengan usia dan kebutuhan, agar belajar menjadi tepat sasaran. Yang paling dibutuhkan dan mendasar dipelajari terlebih dahulu, baru kemudian yang lain. Muncullah istilah seperti nahwu wadzifi dalam konteks pembelajaran ini.

 

Sayangnya, sampai saat ini belum banyak buku  pelajran bahsa Arab yang dikhususkan untuk mempelajari al-Quran (al-arobiyah li aghrodl khossoh). Maka perlu dilakukan pennyusunan kurikulum untuk Bahasa Arab Tujuan Hafalan Al Quran. Di Indonesia, upaya ini sudah dimulai oleh Gurunda Prof. H.D Hidayat dari UIN Syarif Jakarta.

Dengan tingkatan tingkatan penguasaan ini pada akhirnya orang yang menguasai bahsa Arab akan nyaman Ketika membaca dan menghafal al-Quran. Bahkan kemudian memahaminya. Tidaklah sama, orang yang menghafal teks tanpa paham dengan mereka yang membaca teks seraya memahami isinya. Ibarat orang yang menghadiri jamuan makan, di dalamnya dia bertemu dengan orang-orang yang dia kenal, dengan makanan yang semua familiar bagi dirinya serasa di rumah sendiri. Betah. Lain halnya Ketika, semuanya terasa asing. Tidak seorangpun yang dia kenal, plus makanannya juga aneh tidak sesuai selera, segera ia ingin hengkang dari ruangan. Mencari tempat nyaman.

 

Bittawfiq daiman.